Monday, 17 August 2015

My First Child...

Tidak terasa di tanggal 15 Agustus 2015 kemarin Sophia Aliska Firmansyah sudah berumur 5 Bulan, waktu terasa begitu cepat. Seperti baru kemarin, saya menyiapkan baju istri untuk persiapan melahirkan, H-1 masih mengantar istri untuk kontrol ke Dokter Kandungan, kemudian subuh-subuh mengantar Istri ke Rumah sakit karena sudah kontraksi dari semalam.

Karena Dokternya belum datang, kami menunggu sampai pagi. Saya tidak sempat mengantar Istri ke ruang persalinan, karena saya harus mengurus Administrasi di Kasir dan juga pada waktu itu ketubannya sudah pecah, jadi dokter langsung membawa istri saya ke Ruang Persalinan.

Ketika itu saya sudah menunggu di depan Ruang Bersalin dari pukul 07.00 dan setelah menunggu hampir 90 menit, saya mendengar dari dalam ada suara tangisan bayi dan seorang perawat keluar dengan membawa tempat tidur kecil yang di dalamnya ada seorang bayi kecil yang cantik, yang kelak mempunyai nama Sophia Aliska Firmansyah.

Ada rasa haru yang timbul ketika melihat sesosok malaikat kecil yang sedang menangis.
Setelah melihat bayi kecil, saya langsung menemui Istri saya dan memberi kan selamat.

Terima kasih…
Terima kasih…
Terima kasih atas perjuangannya melahirkan Generasi penerus kita…

Tidak ada kata yang dapat menggambarkan rasa terima kasih yang teramat besar untuk Istri saya…
Dan memang benar Surga itu ada di telapak kaki Ibu, setelah saya melihat perjuangan Istri saya…



Nama    : Sophia Aliska Firmansyah
Lahir     : Jakarta, 15 Maret 2015
Berat     : 3.2 Kg
Tinggi   : 50 cm







Semoga Anak kita menjadi anak yang Soleh, berbakti pada Orang Tua, dapat membantu sesama, dan juga memiliki Otak yang cerdas. Sesuai dengan namanya anak yang bijaksana, cerdas dan berwawasan luas.
Sophia Aliska Firmansyah

Friday, 5 June 2015

1 Juni 2015

1 Juni yang teringat adalah malam sebelum hari tersebut...
Malam yang lebih mendebarkan dibanding malam menghadapi Sidang Sarjana esok harinya...
Malam yang akan membuat semua pria tidak bisa tidur...
Yaitu H-1 sebelum pernikahan...

Pasti semua orang yang pernah menikah akan merasakan Sindrom malam Pranikah...
Sindrom ini kadang membuat kita menjadi penuh keraguan...
Apakah dia pasangan yang saya ingin kan?
Apakah setelah menikah saya menjadi tidak bebas?
Apakah dia bakal setia?
Masih banyak apakah-apakah lain yang asalnya tidak terpikirkan menjadi terpikirkan...

Pada waktu itu menunjukkan pukul 00.00 dan saya masih belum dapat tidur...
waktu berlalu begitu saja, tiba-tiba pagi menjelang...
Dan semakin berdebar dibuatnya...
Saya pun lasung mandi bersiap-siap...

Tibalah saat ujian yang sebenarnya dimulai...

Detik - detik menjelang Ijab qobul (dok. 1 juni 2014)

Dan Alhamd. 1 kali langsung Sah...
Baru kemudian Istri saya menghampiri saya di depan...

Ini loh salah satu fans saya, yang akhirnya menjadi Istri saya... (he...)


Dan tepat 1 Juni 2015 ini, tahun pertama kita menjadi Suami - Istri...
Happy 1st Anniversary My Love... Semoga bisa menjadi Istri yang berbakti terhadap Suami...

Dan di Perayaan 1 tahun pernikahan ini, ada anggota baru dalam keluarga...
Bidadari Kecil Sophia Aliska Firmansyah, ini adalah kado terindah yang di berkan Allah untuk kita...

(Dok. 15 Maret 2015)

Friday, 1 August 2014

Jalan-jalan ke Selabintana

Bagi teman2 yg mudik ke Sukabumi dan merasa bosan mau jalan2 kemana, cobain deh wisata ke Selabintana. Hanya membutuhkan waktu 30 menit dari kota dengan menaik angkutan umum anda akan disuguhkan udara yang segar dan asri.   Untuk menuju kesana, dari Sukabumi kebetulan saya tinggal di jl. Siliwangi hanya perlu naik angkot warna merah jurusan Selabintana. Untuk yang dari terminal Sukabumi anda harus naik angkot warna putih no. 14 dulu kemudian turun di Jogja Dep. Store lalu dari sana bisa mencari angkot warna merah no. 10 untuk ke Selabintana.

Pada H+3 setelah Lebaran, saya dan istri saya memutuskan untuk jalan2 ke Selabintana. Kami berangkat agak siangan sekitar pukul 10 pagi (meleset 1 jam dari jadwal karena istri belum mandi sampai jam yang direncanakan). Sebelum berangkat kesana, hal yang perlu dipersiapkan adalah makanan dan minuman. Jadi, kami pun sempat berbelanja makanan dulu di market terdekat. Kemudian setelah persiapan makanan selesai, kami mulai naik angkot jurusan Selabintana. Selama perjalanan agak tersendat, mungkin karena waktu liburan jadi ternyata banyak juga yang pergi kesana. Selang 30 menit kemudian, akhirnya kami berdua sampai ditempat tujuan. Dan ternyata suasan disana dukup ramai, banyak orang2 yang membawa keluarganya mulai dari nenek, kakek, keponakan, sodara, anak, tetangga dll. Memang sih enaknya kalau pergi ke tempat rekreasi gini harus sama keluarga besar, tidak seperti kita yang berdua saja bahkan anak pun belum ada (mudah2an tahun depan sudah punya anak, amin....).

Untuk tiket masuk ke sana cukup murah hanya 5.000/org saja dan untuk angkot yang tadi saya naiki 3.000/org saja, jadi cukup murah bukan untuk liburan kali ini. Setelah memasuki Selabintana, kami mulai mencari tempat yang enak buat menikmati suasana. Oiyah, jadi di kawasan Selabintana ini ada beberapa wahana seperti water boom bagi yang mau berenang, flying fox, ayunan, atau yang mau menikmati santai sambil tidur2an ada landscape rumput yang luas dengan pepohonan yang rindang.

Setelah berjalan cukup lama sambil berkeliling, akhirnya kami memutuskan tempat yang akan menjadi tempat santai adalah di bawah suatu pohon pinus yang rindang. Temen2 ga perlu cemas bagi yang tidak membawa alas, disana ada penyewaan tikar yang siap membantu. Untuk harga sewanya 15.000 saja, mungkin bisa kurang kalau temen2 bisa menawar dan lama sewanya unlimited (sampe kita pulang).

Kemudian waktu santai pun dimulai, disana ternyata banyak sekali jajanan yang menyediakan berbagai makanan mulai dari kopi, pop mie, seblak, baso dll. Saya terakhir ke sini belum serame ini (beberapa tahun yang lalu). Istri saya teringat masa lalunya sewaktu di desa, ketika ada anak main balon sabun, dan dia pun meminta saya untuk membelikan balon sabun itu. Bagi anda yang merasa ternostagila sewaktu kecil dengan balon yg terbuat dari sabun, maka belilah harganya cuma 3.000 saja (harga naik setelah esok hari...). Dengan mata yang berbinar-binar, istri saya memaikan balon sabun itu dan saya terlupakan sejenak.

Hal yang menyenangkan pada liburan kali ini adalah tidur. Ternyata tidur di bawah pohon yang rindang dan suasana yang sejuk cukup menggoda mata ini untuk terlelap. Dan benar saja saya agak tertidur sesaat.

Setelah hari menunjukkan siang, kami pulang karena sudah laper sih intinya. Demikianlah sekilas info mengenai liburan H+3 lebaran kali ini. Jadi yang merasa tertarik dan mau liburan bersama keluarga coba deh tempat ini.

Salam 5 jari...

Tuesday, 29 July 2014

Idul Fitri 1435 H

Hari ini tepat tanggal 28 Juli 2014, kita sebagai umat muslim merayakan hari kemenangan. Hari dimana kita kembali ke Fitri layaknya secarik kertas putih yang belum ternoda tinta. Ini adalah Lebaran pertama saya bersama istri (edisi pengantin baru)…

Tahun ini kebetulan kita merayakan Idul Fitri di rumah orang tua saya. Sebetulnya kita berencana untuk merayakan Idul Fitri di kampung halaman istri saya, namun karena situasi kondisi yang tidak memungkinkan akhirnya pada Lebaran kali ini di rumah orang tua saya.

Dimulai pukul 05.00 pagi kita mulai bersiap-siap untuk melakukan sholat Ied. Kebetulan sholat Ied dilakukan di sebuah lapangan yang luas (edisi Outdoor). Setelah semuanya selesai, kita mulai berangkat menuju tempat sholat. Tepat pukul 06.00 kita berangkat dengan naik angkutan umum (angkot), 15 menit kemudian sampailah kita ditempat tujuan.

Pada pagi itu, suasana sudah cukup ramai karena waktu sholat akan segera tiba. Kemudian kita bergegas mencari tempat yang masih kosong, kebetulan saya mencari posisi yang didepan, sedang istri dan ibu saya menempati posisi di belakang. Setelah selesai sholat kita diwajibkan untuk mendengarkan ceramah dahulu sebelum pulang, namun istri saya malah pulang duluan (ini jangan dicontoh yah…).

Selang 15 menit kemudian, saya meninggalkan tempat sholat untuk pulang menuju rumah. Pada perjalan pulang saya memutuskan untuk berjalan kaki, karena sebenarnya tidak begitu jauh juga antara rumah saya dengan tempat sholat. Sepanjang perjalanan, saya mencoba jalan yang lain untuk menuju rumah saya. Ternyata banyak yang sudah berubah dalam setiap tempat yang saya lewati. Kadang ketika kita menggunakan kendaraan kita tidak menyadari bahwa beberapa keadaan yang dulu ada sekarang menjadi tidak ada. Tapi ketika kita coba untuk melangkah selangkah demi selangkah kita menyadari bahwa ternyata sudah banyak yang berubah yang berada disekitar kita.

Setibanya di rumah, istri saya sudah menyambut dengan sumringah dan mata berbintang-bintang. “Akhirnya suaminya sampai rumah juga” sahutnya dalam hati, dia senang saya datang karena dia sudah lapar ingin cepet makan. Jadi intinya karena sudah laper, coba kalau belum laper… ga tau deh…

Untuk istri saya, Mohon Maaf Lahir Batin yah…
Maaf jika selama ini belum bisa menjadi Suami yang diharapkan…
Belum bisa menjadi imam yang baik…

Tuesday, 8 April 2014

PEMILU 2014

Sukabumi, 9 April 2014

Hari ini adalah hari cukup melelahkan buat sy. Sy harus kembali ke rumah sy untuk melakukan sesuatu yg penting (padahal baru pulang kerja jam 04.30...). Sy berangkat tepat pukul 06.30 dari Cikarang menuju Sukabumi. Dengan mata yang sedikit mengantuk, sy membelah jalanan Cikarang. Hal luar biasa pagi ini, jalanan sepi sekali yg biasanya penuh dengan bis2 angkutan karyawan, lalu lalang pengemudi motor bak lebah, dan kendaraan alat berat yang merusak jalanan. Coba hal ini seperti ini setiap hari, adem rasanya.

Dengan semangat membara sy melaju dengan kecepatan standar motor matic. Selama perjalanan, sy masih belum tahu mana yang akan dicoblos. "Indonesia Hebat", "Kerja Nyata", "Suara Rakyat", "Bersih peduli tegas", dan lainnya. Semuanya sama saja, hanya ber-makeup waktu menjelang pemilihan saja. 1 suara yang akan menentukan perjalanan 5 tahun ke depan.

Tanpa terasa akhirnya sampai juga di kota tercinta. Diluar dugaan, lebih cepat dari yg diperkirakan. Mungkin karena jalanan sepi tanpa hambatan.

Sesampainya dirumah, dengan mata terkantuk-kantuk sy langsung pergi ke tempat pemilihan umum. Wow, ternyata antri sodara-sodara. Dengan terpaksa sy manunggu saja, daripada lama lagi. Sambil menunggu, sy lihat-lihat calon wakil rakyat yang nanti akan duduk di parlemen. Dan.benar saja dark sekian puluh calon, hanya beberapa yang sy tahu. Ada tetangga rumah (baru tahu nyaleg...), sodara jg, teman seangkatan.

Sapa yah yang harus saya Coblos...

Oia, pada Pemilu kali ini ada sekitar 15 Partai yg terdaftar, semuanya "Pemain Lama". Saya kadang kasihan sama org2 yang kurang mengerti arti suara mereka. Mereka kadang cuma dijadikan alat untuk mencoblos partai tertentu! Dengan iming2 uang yang ga seberapa.

Tiba-tiba lamunan sy buyar oleh panggilan dari panitia Pemilu. Dengan langkah pasti, saya mengambil kertas suara kemudian menuju bilik suara. Dengan mengucap Bismillah sy cobloslah itu kertas suara (kyk judul lagu yah....). 

Semoga 1 suara kecil ini bisa membantu negara ini untuk 5 tahun ke depan. 

Ayo jangan Golput yah kawan...

Thursday, 9 January 2014

Jalan-jalan ke Kota Tua Jakarta

Bagi temen-temen yang belum pernah mendatangi Kota Tua, sy mau berbagi pengalaman sy jalan-jalan di Kota Tua, CekiDot….

Latar belakang jalan-jalan kali ini adalah karena kita sudah bosan jalan-jalan ke mall yang gitu-gitu aja, maka diusulkanlah untuk jalan-jalan ke Museum. Tidak ada salahnya mencoba kencan sambil menambah pengetahuan mengenai sejarah Bangsa Indonesia… Merdekaaaaa…..

Di sabtu pagi yang berawan, kita memulai perjalan dari kostan tepatnya di Cikarang. Kita berdua sama-sama belum pernah kesana dan tidak tahu cara pergi kesana, jadi hanya bermodal info dari BBM ke BBM pada waktu itu….

Untuk pergi ke Kota Tua, rutenya adalah kita pergi dulu ke Pool Bis AO Cikarang (tepatnya sebelum City walk). Kita berangkat jam 07.00 pagi naik angkot ke Pool Bis, naik angkot 33 (ongkosnya 2 ribu per org) kemudian turun di depan Pool Bisnya. Dari sana naik bis AO jurusan Cikarang-Blok M Patas  AC (Ongkos bisnya 13 ribu/org). Untuk pergi ke Kota Tua, kita turun di Komdak, dan yang tidak disangka kita berdua turunnya kelewatan (efek tidak tahu jalan), tapi untungnya ga terlalu jauh jadi masih bisa jalan kaki ke tempat seharusnya turun (semoga aja tidak kesasar di kota ini…). Kemudian dari Halte Komdak, kita menuju halte busway semanggi untuk menuju ke kota tua, jadi nanti kita naik busway jurusan Blok M – kota (tiketnya 3500/org). Dari tempat beli tiket ke Shelter Busway kita harus aga berjalan cukup jauh karena kita harus menyeberangi perempatan semanggi yang lebar banget jalannya.

Dan tak lama menunggu akhirnya Busway yang ditunggu-tunggi datang juga. Kondisi Busway cukup nyaman dan adem tentunya. Karena ini pertama kalinya kita jalan-jalan ke kota tua, kita memperhatikan tiap koridor pemberhentian Busway, karena menurut teman kita sebut saja Nurhadi bukan nama depan sebenarnya, katanya turunnya di Harmoni. Karena meras tidak yakin (sorry Bray…), pada akhirnya sy bertanya ke kondektur bis. Dan benar saja kita tidak mengikuti saran teman kita itu untuk turun di harmoni, karena dengan tidak terduga busway ini menuju ke arah Kota Tua.


Tak lama berselang setelah kita melewati beberapa koridor busway, akhirnya kita sampai juga di kota tua. Ditemani dengan belaian angin dan mendung yang mendera kita melangkah turun dari busway menuju kota tua.

Hari itu masih cukup pagi dan kita berdua pun jalan-jalan dulu ke stasiun kota untuk mencari cemilan lontong sayur atau ketoprak. Dan sungguh kurang beruntung karena tidak menemukan kedua hal di atas, akhirnya kita pergi ke ****mart, untuk membeli makanan pengganjal perut. Setelah membeli cemilan ternyata hujan mengguyur kota tua, dengan tidak ada pilihan lain kita menunggu di stasiun kota sambil melihat lalu lalang orang.

Kemudian setelah hujan berhenti, tempat pertama yang kita datangi adalah Museum Bank Mandiri. Untuk masuk kesana tenang saja Gratis asalkan kita punya ATM Bank Mandiri untuk ditunjukkan ke petugasnya. Di dalam Museum ini, menggambarkan sejarah Bank Mandiri dari awal berdiri sampai sekarang. Didalam juga ada banyak alat-alat yang digunakan pada waktu zaman dulu untuk keperluan perbankan seperti alat hitung, brankas, dll. Dan yang paling menarik adalah pembukuan catatan keuangannya, tebal sekali dan rapih tulisannya (karena pada waktu itu belum ada computer, jadi ditulis manual).

Kemudian setelah selesai puter-puter di Meseum Bank Mandiri, kita pergi ke museum selanjutnya yaitu Museum Bank Indonesia. Sebelum menuju Museum Bank Indonesia kita makan dulu batagor dipinggir jalan (lumayan buat cemilan…). Setelah selesai makan, kita menuju Museum Bank Indonesia. Di dalam Museum ini banyak sekali pengetahuan terkait sejaran uang di Indonesia. Saya baru tahu, kalau zaman dulu ada uang daerah (jadi tiap daerah punya jenis uang masing-masing). Trus zaman dulu juga ada nominal ½ rupiah, 2 ½  rupiah dan ada juga nominal uang yang bisa disobek (jadi misalnya kita punya 2000, kemudian dijajankan 1000 nah uangnya itu disobek dibagi dua; jadi nominal masing-masingya 1000). Selain sejarah uang di indonesia, ada juga sejarah uang di dunia. Pokoknya bagi temen-temen yang sudah bosan pacaran ke mall, maka jalan-jalan ke Museum bisa jadi hal yang menarik.

Setelah dari Museum Bank Indonesia, kita melangkah menuju Kota tua, tidak jauh dari Museum Bank Indonesia kok tinggal jalan kaki atau ngesot juga bisa sepertinya… disana banyak banget yang jualan makanan jadi jangan takut kelaperan yah.

Kemudian kita memilih Museum berikutnya yaitu Museum wayang (karena tema kencan hari ini Museum…). Di Museum ini, kita dapat informasi mengenai wayang-wayang yang ada di Indonesia. Yang kita tau kan kalau wayang itu cuma  Wayang Golek berasal dari daerah Jawa Barat, Wayang Kulit dari Jawa Tengah. Ternyata daerah lain juga punya wayang juga loh. Jika temen-temen ingin tahu jenis-jenis wayang datang saja ke Meseum Wayang ini (cukup murah tiketnya Cuma 2000/org).

Kemudian perjalanan dilanjut menuju Museum Jakarta. Di dalamnya banyak informasi terkait sejarah kota Jakarta. Hanya saja museum Jakarta ini keadaannya kurang terawat, banyak bagian-bagian yang sudah rusak. Mari kita rawat benda-benda, bangunan yang menjadi salah satu dari bagian cerita Indonesia, kalau bukan kita sapa lagi yang akan menjaganya. Di Museum Jakarta ini kita bisa melihat bekas penjara zaman Belanda, meriam tua.

Karena hari telah menuju sore, kita memutuskan untuk menyudahi jalan-jalan kita di Kota Tua. Kita pun pergi menuju Halte Busway untuk kembali ke Cikarang. Ada cerita yang menarik waktu pulang ini, kita tidak turun di tempat yang seharunya, akhirnya dengan berat hati kita turun di blok M. dari blok M untuk kembali ke cikarang saya sempat bertanya ke petugas terminal naik jurusan apa, karena kita emang benar2 ga tau harus naik jurusan yang mana. Kemudian kita menunggu bis yang akan kita naikin, setelah 1 jam menunggu akhirnya kita naik bis juga untuk kembali ke Cikarang. Demikian perjalanan Meseum kali ini, sampai ketemu lagi di Museum-meseum selanjutnya.

Rute perjalanan :
Bis AO Cikarang-Blok M (turun di Semanggi) à 13000 per org
Busway Blok M – kota à 3500 per org
Busway Blok M – kota à 3500 per org
Bis patas AC Blok M – Cikarang à 9000 per org

Tuesday, 7 January 2014

Trip to Bromo - Malang Part 2

Menyambung kisah sebelumnya, perjalanan kita lanjutkan menuju Bromo…

Hal pertama yang dilakukan ketika kita tidak tau jalan adalah bertanya…

Pada waktu itu, saya bertanya pada bagian penerima tamu tentang arah menuju ke Argosari dari Batu. Kemudian petugas penerima tamu tersebut memberitahu jalan tercepat tanpa harus ke Landung sari dulu. Jadi untuk ke Argosari dari Batu Malang kita harus kembali ke Terminal Landung sari dl, baru disana naik angkot jurusan ke arah Argosari. Ternyata dari Batu ada jalan lain juga tanpa harus kembali ke Landung sari dulu. Jadi dari batu kita bisa naik angkot jurusan Pasar Karang Ploso, kemudian turun di Pasar Karang Ploso, dari Pasar Karang Ploso naik angkot jurusan Argosari. Setelah sampai di Terminal Argosari, kemudian kita berdua naik Bis jurusan Malang – Probolinggo (ongkosnya 27 ribu/org) bisnya Patas AC, lama perjalanan kira-kira 3 jam. Setelah sampai di Probolinggo, tepatnya diterminal Bayuangga kita mencari tiket Bis dulu untuk pulang ke Bandung. Kebetulan pada waktu itu kita dapat tiket bis untuk keberangkatan besok sore, jadi saya rasa cukup waktunya untuk kembali lagi kesini besok sore. Selidik punya selidik Agen bis tersebut, kebetulan punya kenalan di Bromo yang dapat menyewakan mobil disana. Langsung aja sy pesan untuk besok ke Pananjakan daripada kita harus nyari-nyari lagi disana.

Setelah selesai, kemudian kita pergi menuju Pool mobil-mobil yang mengangkut ke Bromo. Untuk pergi ke Bromo kita harus naik angkutan lagi, orang-orang menamakannya mobil Bison. Pada bagian ini kita harus sabar menunggu, karena mobil tidak akan jalan jika Quotanya tidak memenuhi. Kita berduapun sampai harus menunggu 2 jam untuk dapat jalan tuh mobil. Itu juga kita harus nambah 10 ribu karena, quota tidak memenuhi, tapi yah mau gimana lagi hari sudah sore sedangkan kita belum dapat penginapan disana (ongkos mobil 40 ribu/org; normalnya 30 ribu/org). Perjalanan menuju Cemoro lawang cukup menarik, kita akan disuguhi pemandangan yang Asri (bukan Asri Welas yah….), banyak kebun sayuran warga, pohon2 pinus, dan tentunya udara yang sejuk. Perjalanan ke Cemoro Lawang kira-kira 45 menitan.

Setelah sampai di tujuan kita langsung disambut dengan dinginnya udara…
Tipsnya, sebaiknya mandi sebelum ke cemoro lawang, dijamin sudah sampai sana g akan mandi… Airnya itu suhu 2-3 derajat, pokoknya dingin beud klo kata pacar saya…
Kebingungan pertama setelah sampai disana adalah mencari penginapan. Tapi jangan panik, disana banyak banget baik itu hotel, penginapan atau home stay. Disesuaikan dengan budget yang ada saja. Kebetulan pada waktu itu kita pendapatkan penginapan yang lumayanlah. Sesampainya di penginapan, kita membereskan barang kemudian tidak lupa Sholat dulu… kemudian kita berdua pergi jalan-kalan, hunting foto-foto yang bagus. Jangan lupa sediain jaket yang tebal yah, soalnya udaranya dingin banget. Bagi yang mau membeli sarung tangan, syal atau kupluk disana banyak yang jual kok. Tipsnya adalah harus pinter-pinter nawar yah.


Menjelang malam kita kembali ke penginapan untuk beristirahat, karena besok kita akan dijemput pukul 03.30 pagi untuk pergi ke Pananjakan melihat Sunrise. Keesokan harinya, tepat pukul 03.30 kita dijemput untuk pergi ke Pananjakan. Mobil yang digunakan ga tanggung-tanggu pake Hartop. Sebetulnya untuk kondisi medan jalan disini, pas menggunakan mobil tipe itu. Karena menanjak aja sudutnya bisa sampai 80 derajat kali yah. Kondisi pagi buta itu ternyata sangat dingin menghujam jantung (lagu Tompi yah,,, he), menusuk tulang maksudnya.

Untuk mencapai view point ternyata mobil kita ga sampai ke sana karena sudah banyak mobil yang parkir, jadi kita harus berjalan aga lumaya jauh. Tapi teman-teman jangan khawatir bagi yang ga mau jalan bisa menggunkan Ojeg, cuman tarifnya cukup mahal 20 ribu sampai ke atas per orang tentunya.

Sesampainya di view point, sambil menunggu Sunrise kita menikmati pemandangan yang terhampar. Kondisi pada waktu sudah padat dengan orang. Tips jika ingin dapat spot yang bagus, datanglah lebih pagi kesana. Sayangnya pada waktu itu langit Bromo aga sedikit berawan, jadi Sunrise kurang dapet feel-nya.

Setelah pagi menjelang, kita kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanan menuju landscape padang pasir. Disana kita bisa melihat kawah yang indah, cuman sayangnya kita berdua tidak kesana, karena pacar saya sedang kurang enak badan, jadi kita hanya jalan-jalan saja di padang pasir.

Kemudian kita kembali ke penginapan… packing persiapan pulang…
Kita balik lagi ke Terminal Bayuangga, untuk melanjutkan perjalanan pulang. Sesampainya di terminal, sambil menunggi bis, sy mandi dulu di terminal karena selama di Bromo ga mandi… akhirnya tepat pukul 04.30 kami berangkat meninggalkan Probolinggo. Saran saya jangan naik bis dari Probolinggo, kerena kita akan melewati jalur Pantura dan bisnya hanya sampai Cirebon saja, kemudian dari Cirebon naik lagi menuju Bandung, dan perjalan bisa sampai 25 jam bisa Magay (Mati Gaya…) di Bis. Ya, pada waktu g ada pilihan soalnya, seninnya ada yang harus pesentasi gtu (cutinya ditolak atasan....), jadi kita memanfaatkan Bis yang ada untuk pulang ke Bandung.
Sekian info perjalan saya bersama LRL. Sampai ketemu di Perjalanan selanjutnya....

Rute Transport :
Angkot :
Batu malang - Pasar Karang Ploso  (ongkos 4500/org)
Pasar Karang Ploso - Argosari (ongkos 4500/org)
Bis :
Malang – Probolinggo (ongkos 27000/0rg)
Bayuangga – Cemoro Lawang (ongkos 30000/org)